Sabtu, 26 September 2009

Hai Pemuda, Jangan Sia-siakan Hidupmu!


Refleksi Hari Kemenangan
Kemenangan dalam pandangan seorang juara sejati adalah tatkala hasil kerja kerasnya bisa ia syukuri layaknya bukan atas kerja kerasnya sendiri. Ia yakin semua keberhasilan tersebut adalah atas berkat rahmat dari Allah SWT Sang Maha Pemberi. Namun, sangat disayangkan apabila keberhasilan itu kini melenakan setiap juara menjadi seperti pecundang di dalam perjalanan hidup selanjutnya. Mengapa? Tiada lain karena waktu demi waktu yang dijalani hanya dilewatkan begitu saja tanpa melakukan suatu hal yang berarti.
Ulama, Tabiin, Sahabat Nabi dan Nabi sendiri sangat tidak suka terhadap pemuda Islam yang hanya bisa melewatkan waktunya untuk hal yang sia-sia. Modal terbesar seseorang adalah masa mudanya dan sumber kerugiannya adalah mengulur-ulurkan waktunya. Alangkah indah para pemuda yang taat pada Allah SWT maka hendaklah mereka senantiasa bergegas untuk bertaqwa. Barang siapa yang tersia-siakan waktunya maka akan menjadi bahan penyesalan untuknya terutama di alam kuburnya nanti.
Sebagian besar pemuda tak menyadari ketika mereka berkata, “Ah, gampang, nanti saja, toh kita masih muda, nanti saja kalau sudah dewasa, aku akan taat pada Allah SWT”. Sesungguhnya mereka inilah yang ditipu dan hatinya telah lalai dan tertutupi oleh rayuan iblis. Alangkah celaka mereka yang tak mau bertaubat di saat muda dan tidak mau melihat kekurangannya.
Teman yang Dicari
Para orang tua sering menghimbau kepada para pemuda, “Hai Pemuda, Apabila kau ingin mengikuti jejak Sang Nabi, maka jauhilah teman-teman yang dapat merusakmu.” Memang benar, teman adalah salah satu faktor penting bermanfaat atau tidaknya waktu yang kita gunakan. Kawan yang pantas dipilih adalah kawan yang dapat membimbing seseorang ke dalam kebaikan. Seseorang akan selalu mengikuti perilaku sahabatnya. Tatkala ia bersama dengan orang yang soleh, niscaya ia akan menjadi obat bagi hatinya, menambah semangat dalam jiwanya dan meningkatkan ketabahan dalam sikap dan perbuatannya. Sementara, apabila ia bersama dengan orang yang bodoh, niscaya hanya akan menambah penyakit hatinya.
Orang-Orang Yang Dijamin Sia-Sia Amalnya
Berikut ini beberapa contoh orang-orang yang hidupnya  sudah dipastikan dalam Al-Qur’an akan sia-sia dan merugi di Akhirat nanti. Siapakah mereka?
1.Kafir: Non Muslim
”Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka” (Ar-Ra’d: 14).
Untuk yang satu ini, tentunya kita tak perlu membahasnya. Mereka sudah jelas-jelas akan dimasukkan ke dalam nerakanya Allah SWT.
2.Murtad: Orang-orang Islam yang keluar dari agama Islam
“Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Albaqarah :217)
Sebagai seorang pemuda, kita patut menjaga keseharian kita dengan nilai Islami. Mengapa? Banyak yang keluar dari Islam terutama mereka yang beranjak dewasa karena tidak menemukan keterikatan kepada Allah SWT. Apalagi mereka yang sedang menjalin cinta dengan pasangan yang non Islam, muslim tersebut dengan rela mengkhianati Tuhannya demi Cintanya pada sang pasangan. Na’udzubillahi min dzalika.
3.Musyrik: Orang-orang yang menyekutukan Allah SWT
“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka” (At-Taubah: 17)
Musyrik terutama mereka yang bersekutu dengan jin/iblis, para dukun sihir, dan setiap orang yang mempercayai kekuatan yang berasal dari selain Allah niscaya ia akan dicap oleh Allah sebagai seorang yang Musyrik. Tentunya kita tidak mau ikut-ikutan dicap oleh Allah sebagai Musyrik. Tetapi banyak sekali praktek di Indonesia yang sulit dihindari dari hal-hal tersebut. Masih banyak orang-orang yang percaya pada ramalan para dukun baik bertemu langsung maupun yang sekarang sedang marak yakni melalui layanan SMS. Tsumma Na’udzubillah…
Apa yang perlu diisi dalam waktu-waktu kita?
1.Istiqomah Bertaqwa kepada Allah SWT
Abul Qasim Al Qusyairi berkata: “Istiqamah adalah satu tingkatan yang menjadi penyempurna dan pelengkap semua urusan. Dengan istiqamah, segala kebaikan dengan semua aturannya dapat diwujudkan. Orang yang tidak istiqamah di dalam melakukan usahanya, pasti sia-sia dan gagal”.
2.Niat Berbuat Baik Sebanyak-banyaknya
Pengarang kitab Al Ifshah dalam salah satu pernyataannya mengatakan: Sesungguhnya tatkala Allah mengurangi umur umat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Allah mengganti kependekan umurnya itu dengan melipat gandakan pahala amalnya”. Barang siapa berniat berbuat baik maka dengan niatnya itu ia mendapatkan satu kebaikan penuh, sekalipun sekadar niat. Allah jadikan niatnya itu sebagai kebaikan penuh agar orang tidak beranggapan bahwa niat semata-mata mengurangi kebaikan atau sia-sia. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam menjelaskan dengan kata “kebaikan sempurna” dalam hadits ke-37 Kitab Arba’un Nawawiyah. Jika seseorang berniat baik lalu melaksanakannya, hal itu berarti telah keluar dari lingkup niat menjelma kepada amal. Niat baiknya ditulis sebagai suatu kebaikan, kemudian perbuatan baiknya digandakan. Hal ini semua tergantung pada ikhlas atau tidaknya niat pada masing-masing perbuatan.
Pesan Nabi
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Seseorang tidak akan mencapai derajat taqwa sebelum ia meninggalkan hal-hal yang tidak berguna karena khawatir berbuat sia-sia”.
Nah, saudaraku yang dirahmati Allah SWT, melalui hadits tersebut secara tegas Nabi SAW menunjukkan ketidaksukaannya kepada umatnya yang berbuat sia-sia. Akankah kita sebagai umatnya Nabi Muhammad SAW yang sangat beliau cintai hingga akhir hayatnya ia berkata: “Ummati Ummati Ummati (Umatku umatku umatku)” saja kita khianati? Bagaimana kepada Sang Tuhan ArRahman ArRahim? Yang menyayangi makhluqnya melebihi apa-apa yang ada di alam ini?
Duhai pemuda yang beridolakan Rasulullah SAW, saatnya menjunjung Ghiroh (semangat) Cinta Allah dan rasul-Nya dan isilah hidupmu dengan setiap perbuatan yang tak terlepas daripadanya cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Wallahu A’lam. KHAN



Tidak ada komentar:

Posting Komentar