Jumat, 02 Oktober 2009

Jangan Berfikir yang Bukan-bukan

QURDIS
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. AlHujurat:12)
Terkait ayat diatas, dalam kitab Risalatul Mu’awanah, Sayyid Abdullah bin Alwi Alhaddad menerangkan bahwa secara maksimal, berbaik sangka kepada setiap muslim ialah meyakini tidak adanya kejahatan dalam setiap perbuatan dan perkataannya, serta masih menemui adanya kebenaran padanya. Tetapi, jika malah kemaksiatan yang didapati dari dirinya, untuk menjaga sikap baik sangka maka seyogyanya tetaplah berusaha mencegah perbuatan tersebut sambil memperkirakan bahwa iman yang ada di dada mereka masih mampu meredam dan menghentikan segala perbuatan munkar mereka kemudian dilanjutkan dnegan bertobat secara tulus dan ikhlas.
Sedangkan kriteria buruk sangka terhadap sesama muslim ialah meyakini adanya keburukan dalam perkataan dan perbuatan mereka, padahal secara lahiriah mereka tampak baik. Misalnya, ketika engkau melihat seseorang yang rajin salat dan bersedekah, lalu engaku pun menyangka bahwa semua perbuatannya itu ia lakukan hanya untuk memperoleh pujian dari orang lain serta menginginkan harta dan kedudukan.
Sikap buruk sangka seperti ini tak akan kita dapati kecuali pada jiwa-jiwa busuk yang menghiasi diri kaum munafiqin. “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (Annisa:142)
Berhati-hatilah terhadap buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh. (HR. Bukhari)
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Hindarilah oleh kamu sekalian berburuk sangka karena buruk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu sekalian saling memata-matai yang lain, janganlah saling mencari-cari aib yang lain, janganlah kamu saling bersaing (kemegahan dunia), janganlah kamu saling mendengki dan janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling bermusuhan tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. (Shahih Muslim No.4646)
Larangan Berprasangka Buruk Terhadap Allah
Satu sifat yang lebih-lebih juga harus dijauhi setiap muslim ialah berburuk sangka kepada Allah. Allah berfirman:
"...Mereka berprasangka yang tidak benar terhadap Allah, seperti prasangka Jahiliyah; mereka berkata: "Apakah ada bagi kita sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini." Katakanlah: "Sungguh, urusan itu seluruhnya di tangan Allah." ..." (Ali Imran: 154)
Ibnu Al-Qayyim, dalam menafsirkan ayat diatas, mengatakan:
"Prasangka yang dimaksud ditafsirkan bahwa Allah Ta'ala tidak akan menjunjung Rasul-Nya dan agama yang beliau bawa akan lenyap; ditafsirkan pula bahwa apa yang menimpa beliau bukanlah dengan takdir Allah dan hikmah-Nya. Jadi, prasangka tersebut ditafsirkan dengan tiga tafsiran, yaitu: mengingkari adanya hikmah dari Allah, mengingkari takdir-Nya, dan mengingkari bahwa agama yang dibawa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam akan disempurnakan dan dimenangkan Allah di atas segala agama. Inilah prasangka buruk yang diperbuat oleh orang-orang munafik dan musyrik yang tersebut dalam surat Al-Fath: 6 mengenai bagaimana Allah akan membalas perbuatan demikian itu”
"Dan supaya Dia mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan, yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka Neraka Jahannam. Dan (Neraka Jahannam) itulah seburuk-buruk tempat kembali." (Al-Fath: 6)
Adapun perbuatan ini disebut prasangka buruk, karena prasangka yang demikian tidak patut terhadap Allah Ta'ala; tidak patut terhadap hikmah-Nya, puji-Nya dan janji-Nya yang benar.
Karena itu, barangsiapa yang berprasangka bahwa Allah akan memenangkan kebatilan atas kebenaran dengan kemenangan yang tetap, disertai dengan lenyapnya kebenaran; atau mengingkari bahwa segala yang terjadi dengan qadha' dan qadar Allah; atau mengingkari adanya suatu hikmah yang besar sekali dalam qadar-Nya, yang dengan demikian Allah berhak untuk dipuji; bahkan mengira apa yang terjadi ini hanyalah sekedar kehendak saja tanpa hikmah; maka inilah prasangka orang-orang kafir dan Neraka Wail bagi orang-orang kafir itu.
Berbaik sangka terhadap Allah termasuk ibadah yang baik. (HR. Abu Dawud)
Kebanyakan orang melakukan prasangka buruk terhadap Allah, baik dalam hal yang berkenaan dengan diri mereka sendiri ataupun dalam hal yang berkaitan dengan orang lain. Tidak ada yang selamat dari prasangka buruk ini, kecuali orang yang arif dan tahu akan Allah, Asma' dan Sifat-Nya, dan kepastian adanya hikmah serta keharusan adanya pujian bagi Allah sebagai konsekuensinya. Maka orang yang berakal dan cinta terhadap dirinya sendiri, hendaklah memperhatikan masalah ini dan bertobatlah kepada Allah serta memohon maghfirah-Nya atas prasangka buruk yang dilakukannya terhadap Allah.
Janganlah seorang mati kecuali dia dalam keadaan berbaik sangka terhadap Allah. (HR. Muslim)
Apabila Anda selidiki, siapa pun orangnya, niscaya akan Anda dapati pada dirinya suatu sikap menyangkal dan mencemoohkan qadar (takdir) dengan mengatakan hal tersebut semestinya begini dan begitu, ada yang sedikit, ada juga yang banyak. Dan silahkan periksa diri Anda sendiri, apakah Anda bebas dari sikap tersebut?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar